BUDIDAYA SAPI POTONG, USAHA YANG MENJANJIKAN

Indonesia masih membutuhan banyak bibit sapi potong, ini karena bibit sapi potong sebagai salah satunya factor produksi yang tentukan dan memiliki nilai vital dalam usaha memberikan dukungan tercukupinya keperluan daging khususnya dalam memberikan dukungan swasembada daging sapi. Langkah yang khusus untuk tingkatkan kesetimbangan pengadaan dan keperluan ternak benar-benar bergantung pada tersedianya bibit yang berkualitas. Maka dari itu usaha pembaruan kualitas dan pengadaan bibit yang penuhi standard dengan jumlah yang cukup dan ada secara terus-menerus dan harga dapat dijangkau harus diusahakan secara terus-terusan.

Baca Juga : Cara Berbisnis Yang Baik Dan Benar 2023 Di Okeplay777

Kekuatan ternak sapi potong di Indonesia masih hebat, dan market share dalam negeri juga sangat terbuka. Tetapi, peternakan sapi potong masih diatur secara tradisionil, kualitas ternak yang buruk dan management perawatan ala-ala kandungannya hingga tidaklah heran jika sapi yang dipiara mempunyai bertambahnya berat harian yang paling rendah. Selain itu rasio pemilikan sekitar 2 – 3 ekor/ rumah tangga, keadaan ini terang benar-benar bikin rugi peternak sendiri karena kurang memperoleh hasil yang memberikan kepuasan. Agar memberi hasil yang maksimal, peternak perlu mempunyai pengetahuan yang cukup saat sebelum memiara ternak sapinya. Banyak tingkatan dan cara yang penting dipahami peternak dan salah satunya ialah mengenai: penyeleksian lokasi, fasilitas dan prasarana, bibit, Sistem Penggemukan dan perkandangan. Untuk memperjelasnya bisa dirinci seperti berikut.

Penyeleksian lokasi. Persyaratan yang perlu disanggupi ialah:

a) Tidak berlawanan dengan Gagasan Umum Tata Ruangan (RUTR);

b) Letak geografis yang pas dengan memerhatikan: Suhu, Curahan hujan, Arah angin, Kelembapan, dan Topography.

Fasilitas dan Prasarana:

a) Infrastuktur yang ideal (bangunan, transportasi, komunikasi, listrik);

b) Air penuhi baku kualitas air sehat, bisa diminum oleh manusia dan ternak, ada selama setahun.

Penyeleksian Bibit.

a)Syarat pembibitan: Sehat dan tidak cacat, Usia ≤ 1 tahun;

b)Syarat pembesaran: Sehat dan tidak cacat, Usia ≤ 1 tahun, Perlu diperhitungkan ternak kurus sehat (flusing);

c) Persyaratan penggemukan: Sehat dan tidak cacat, Usia 1-2 tahun, Perlu diperhitungkan ternak kurus sehat (flusing).

Sistem Penggemukan.

a)Padang pengembalaan (Pasture fattening). Pada sistem ini, sapi ada di padang pengembalaan selama seharian. Sapi itu baru ditempatkan ke kandang saat malam hari atau di saat matahari berkilau terik. Sapi tidak mendapatkan pakan penguat maknanya sapi cuma mendapatkan pakan hijauan yang berada di padang pengembalaan. Disamping itu dianjurkan disekitaran padang ditanam leguminosa pohon, misalkan lamtoro dan gamal;

b)Dry lot fattening (Limitasi hijauan dan memprioritaskan beberapa bijian). Di sini sapi ditaruh di dalam kandang selama waktu. Pakan hijauan dan ekstrak dikasih ke sapi di dalam kandang. Ekstrak sebagai jatah khusus ransum yang diberi, perbedaan hijauan: ekstrak sekitar 40 : 60 sampai 20 : 80. Perbedaan didasari pada berat bahan kering (BK);

c)Sistem gabungan. Bisa dilaksanakan dengan 2 (dua) langkah yakni:

1.Pada musim penghujan, saat hijauan berlimpah sapi digembalakan di padang pengembalaan, sementara pada musim kemarau sapi dikandangkan dan dipiara secara dry lot fattening;

2.Di siang hari sapi digembalakan dipadangan, sementara saat malam hari sapi dikandangkan dan dikasih ekstrak.

Perkandangan. Wujud dan ukuran kandang disamakan dalam jumlah sapi yang hendak dipiara. Ukuran kandang untuk satu ekor sapi jantan dewasa ialah 1,5 x 2m. Dan untuk satu ekor sapi betina dewasa ialah 1,8 x 2m dan untuk satu ekor anak sapi cukup 1,5x1m.

1.Syarat Kandang:

a)Memenuhi daya tampung ternak;

b)Lantai kandang tidak licin dan kemiringan 5-10%;

c)Arah kandang menghadap ke timur;

d)Sirkulasi udara lancer;

e)Berbahan ekonomis namun tetap jamin keringanan perawatan, pembersihan dan disinfektan kandang;

f)Bersaluran pembuangan sampah yang lancer;

g)Bahan dan Konstruksi kandang jamin ternak dari kecelakaan dan kerusakan fisik ternak.

2. Mode Kandang:

A)Kandang bebas (koloni), sebagai barak terbuka tanpa pemisah hingga ternak bebas bergerak dalam area yang lumayan luas. Keuntungannya:

1)Biaya pembikinan lebih murah;

2)Pemakaian tenaga kerja lebih sedikit;

3)Kemungkinan diperlebar tanpa ada beberapa peralihan;

4)Sarana yang gampang untuk mengetahui berahi;

5)Ternak berasa bebas walau peluang merumput terbatas;

6)Pergerakan ternak cukup bebas hingga masalah kekakuan kaki,kebengkakan lutut,lecet pada paha dan cedera pada bahu bisa diperkecil;

B) Kandang Konservatif, ternak dikasih pemisah dari tembok/besi bundar dan lehernya ditambatkan atau diikat dengan rantai atau tali.Ternak cuma bergerak mundur-maju dan tiduran di lantai. Status ternak dibikin sejajar wajar disebutkan mekanisme stall, hingga kandang terlihat rapi, gampang dibikin bersih, kotoran ternak gampang dibuang melalui parit;

C. Perlengkapan Kandang. Yang perlu ada:

1)Alat/tempat pakan dan minum ternak. Tempatnya taruh di luar kandang, namun tetap di bawah atap. Dibikin cukup semakin tinggi supaya pakan yang diberi tidak dipijak-pijak/ tercampur kotoran. Tempat air minum seharusnya dibikin tetap berbentuk bak semen dan sedikit tinggi daripada permukaan lantai; 2)Peralatan sanitasi kandang. Terbagi dalam: ember, sapu, sikat, sekop, sabit, hand sprayer dan tempat untuk memandikan sapi. Semua perlengkapan itu untuk bersihkan kandang supaya sapi terbebas dari masalah penyakit.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *